Karakter Murid Kristus
Ditulis oleh: Administrator pada Rabu, 4 Febuari 2015 06:12:38


Kata ‘murid’ dalam bahasa Yunani disebut mathetes yang secara harafiah berarti ‘orang yang belajar’ (dari kata: methano, yang artinya: belajar) atau ‘orang yang mengikuti pelajaran seseorang’. Dalam hal ini, ia merupakan ‘duplikat’ atau ‘imitasi’ gurunya. Di dalam bahasa Inggris kata ‘murid’ adalah disciple, yang diturunkan dari bahasa Latin: discipulus, yang di dalamnya terkandung arti: seorang ‘pengikut yang setia’.

Murid adalah orang yang selalu bersama-sama dengan gurunya di manapun gurunya berada. Tapi, seorang pengikut hanyalah orang yang ada dan bersama-sama dengan gurunya pada saat-saat tertentu. Yesus memiliki banyak pengikut, tapi yang menjadi murid-Nya hanyalah dua belas orang yang akhirnya menjadi rasul-rasul, kecuali Yudas yang mengkhianati Dia.

Di dalam Kitab Kisah para Rasul juga disebutkan bahwa ketika firman Tuhan menyebar, jumlah murid bertambah banyak (lihat Kisah para Rasul 6:7). Pertobatan pertama yang terjadi di Yerusalem menghasilkan petobat sebanyak 3000 jiwa yang kesemuanya memiliki cara hidup sebagai murid. Firman Tuhan di Kisah para Rasul 2:41-47 mengatakan kalau mereka:
- bertekun dalam pengajaran dan persekutuan,
- berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa,
- mengadakan banyak mujizat dan tanda,
- bersatu dan hidup bersama-sama,
- berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah,
- mengadakan perjamuan di rumah masing-masing secara bergiliran, dan
- bertambah banyak dan disukai semua orang.

Inilah kehidupan sebagai murid Kristus pada masa itu yang bila dibandingkan dengan keadaan pada saat ini memiliki perbedaan yang tajam dengan melihat kenyataan yang ada. Memang, kita tidak bisa menyamakan keadaan pada zaman dahulu dengan masa kini dengan melakukan hal-hal yang sama persis dan tidak ada bedanya karena berbagai faktor (sosial, ekonomi, politik, tuntutan zaman dan budaya) di antara kedua masa tersebut sangat jauh berbeda. Tapi, semestinyalah kisah dari murid-murid tersebut mengilhami kita untuk dapat hidup sebagai murid Kristus dalam kontekstualisasi yang tepat.