PERMOHONAN MULIA

Bacaan : Kisah Para Rasul 9:1-9

NATS     : Maka gemetarlah ia dan keheranan, katanya, "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" (Kisah Para Rasul 9:6)

 

Ketika masih menjadi mahasiswa seminari, saya sering terkesan oleh kisah-kisah orang kristiani yang telah melakukan pekerjaan besar bagi Allah. Maka saya memohon kepada Tuhan untuk mengaruniakan wawasan dan kekuatan rohani seperti yang mereka miliki. Kelihatannya itu permohonan yang mulia. Tetapi suatu hari saya menyadari bahwa itu sebenarnya doa yang egois. Maka, bukannya meminta Tuhan untuk menjadikan saya seperti orang lain, saya justru mulai meminta Tuhan untuk menunjukkan apa yang Dia ingin saya lakukan. Ketika Saulus dari Tarsus bertobat sewaktu ia dalam perjalan ke Damaskus, ia mengajukan dua pertanyaan. Pertama, "Siapakah Engkau, Tuhan?" Dan karena menyadari bahwa ia berada di hadirat Allah yang hidup, maka hanya ada satu pertanyaan lagi yang penting: "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" (Kisah Para Rasul 9:5,6). Ia menyadari bahwa ketaatan kepada kehendak Allah merupakan fokus utama sepanjang sisa hidupnya. Permohonan akan kesehatan, kesembuhan, keberhasilan, dan bahkan kekuatan rohani tidaklah salah, tetapi bisa menjadi doa yang egois jika tidak mengalir dari hati yang berketetapan untuk taat kepada Allah. Yesus mengatakan, "Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku" (Yohanes 14:21). Ketaatan menyatakan cinta kita kepada Allah dan memungkinkan kita mengalami cinta-Nya bagi kita. Apakah Anda sudah menyampaikan permohonan mulia: "Tuhan, apa yang Engkau ingin saya lakukan?" —HVL

 

CARA TERBAIK UNTUK MENGETAHUI KEHENDAK ALLAH ADALAH MENGATAKAN "SAYA BERSEDIA" KEPADA ALLAH